Kode-kode Simbolik Beth Hedva
Kode-kode Simbolik Beth Hedva
Kalau mata
dikatakan sebagai jendela jiwa, maka tangan adalah ekspresi jiwa. Bentuk,
warna, celah, lekuk, dan simpul dari garis-garis di telapak tangan, kepadatan dan
kerenggangannya, pola di setiap sudutnya merupakan cermin yang paling jernih
dari situasi kejiwaan seseorang.
Kemampuan
membaca garis tangan (palmistry) saat ini bukan lagi merupakan otoritas orang
yang memiliki daya linuwih. Palmistry adalah perpaduan seni, sains, dan
ketajaman intuisi. Dengan pengetahuan itu, palmistry dapat digunakan untuk
memahami dan membantu orang, ujar Dr Beth Hedva (50).
Doktor di
bidang psikologi yang mendalami dan melakukan serangkaian riset di bidang
psikologi transpersonal selama lebih 25 tahun itu sudah empat kali berkunjung
ke Indonesia atas undangan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara,
Jakarta. Setiap kunjungannya selalu dimanfaatkan oleh mereka yang meminati
bidang psikologi transpersonal untuk menimba ilmu, khususnya tentang palmistry.
Pelatihan lima
hari itu mengeksplorasi penggunaan dan penerapan palmistry mulai dari akar
tradisionalnya sampai pada riset ilmiah modern yang memverifikasi kebertahanan
palmistry sebagai alat diagnosa psikologi dan pengobatan.
Melalui proses
pembelajaran yang partisipatif, para peserta mempelajari pola jari tangan
(dermatoglyphics), bentuk tangan (cheirogomy) dan warna serta garis-garis pada
telapak tangan (cheiromancy) sebagai alat psikodiagnostik transpersonal.
Beberapa tahun
terakhir ini Beth banyak melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk
menunjukkan bahwa sains dan spiritualitas tidak berada di kotak terpisah.
Seperti dua sisi dalam sekeping mata uang.
Psikologi
transpersonal berkembang pesat di Kanada, ujar Beth, yang kini menetap di
Calgary, Kanada. Dalam beberapa tahun terakhir, belasan universitas di Kanada
membuka jurusan psikologi transpersonal, sambung Beth.
Di AS sudah
lebih jauh lagi. Institut Parapsikologi di Durham, Carolina Utara tempat Beth
kuliah sampai memperoleh gelarnya adalah salah satu yang tertua.
Selain
palmistry, perempuan yang dipilih sebagai Women of the Year pada usia 35 tahun
oleh International Biographical Center di Cambridge, Inggris, itu juga memiliki
keahlian di bidang ilmu-ilmu yang berakar pada kearifan kuno.
Ilmu-ilmu itu
menggunakan kode-kode simbolik dari mitologi untuk menjelaskan kondisi kejiwaan
seseorang, selain keterkaitan manusia dengan seluruh ciptaan-Nya. Kode-kode itu
juga mendeskripsikan interaksi setiap kekuatan dalam semesta untuk membangun
kesadaran.
Femininitas
Tangan yang
bersifat reseptif merefleksikan sifat-sifat para dewi. Itu adalah hakikat
femininitas, jelas penulis buku Journey from Betrayal to Trust yang mendapatkan
penghargaan internasional untuk bukunya, Betrayal, Trust and Forgiveness ini.
Apakah garis
tangan adalah gambaran nasib yang tidak bisa diubah?
Garis-garis
tangan selalu berubah sesuai perjalanan hidup seseorang, ujar Beth. Pengetahuan
tentang palmistry membantu orang mengetahui kekuatan, kapasitas, tabiat, juga kelemahan
dan konflik-konflik di dalam dirinya. Kita punya kapasitas untuk mengubah kalau
tahu polanya.
Mekanisme
kira-kira begini: ketika seseorang mau dibaca (dengan tarot atau palmistry),
sentuhan dan komunikasi personal itu secara psikologis membuka pintu nuraninya.
Psikologi merangkai kembali interpretasi simbol-simbol yang terbaca dan
menggunakannya untuk menyembuhkan. Karena itu yang didorong dan dikuatkan
adalah semangat serta kehendak melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup.
Itulah seni
dari ilmu psikologi (transpersonal) yang membedakannya dengan tukang ramal. Itu
juga yang membedakannya dari tes-tes psikologi dengan kriteria baku yang
cenderung mekanistis dan memandang manusia sebagai obyek.
Beth bergelut
dengan misteri kehidupan melalui pengalaman spiritualnya melihat alam semesta
sebagai refleksi Yang Ilahi pada usia 12 tahun.
Buku kuno
tentang palmistry yang ditemukan di perpustakaan kakeknya di Detroit, AS,
kemudian mendorongnya untuk mempelajari bahasa simbol-simbol.
Intensitas
pencariannya untuk memahami saling keterhubungan di alam semesta membuat Beth
optimis melihat masa depan dunia.
Zaman ini ia
umpamakan sebagai perempuan dalam proses melahirkan. Kesakitan akibat
kontraksinya adalah metafor kekerasan dan bencana yang sambung-menyambung, menyayat
jiwa. Bayi yang akan lahir adalah metafor awal zaman baru yang segera tiba.
Tanda-tandanya
sudah tampak. Kekuatan yang feminin terus berkembang. Munculnya perempuan
pemimpin di berbagai tingkat dan bidang serta bertumbuhnya gerakan-gerakan
menolak kekerasan adalah bagian dari pergerakan menuju pencerahan.
Pendekatan
hitam putih; kalah-menang, benar-salah, tidak akan dapat digunakan lagi sebagai
cara untuk memecahkan masalah. Manusia harus mampu melampauinya kalau ingin
menyelamatkan kehidupan. Begitu kata Beth